21 Desember 2014

9 Cara Kurus Tanpa Diet



Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara pula untuk membentuk badan yang ideal. Diet? Nggak harus juga tuh! Kita bisa mulai dari olah raga atau beraktivitas yang asyik-asyik lainnya. Di antaranya nih yah, cicip-cicipi makanan. Jangan salah, ide gokil ini malah bagus buat bikin kurus. Dengan sering mencicipi makanan tentunya akan bikin kita lebih cepat kenyang. Sementara dari cicip-mencicip ini sebenarnya cuma nyumbangin sedikit kalori dalam tubuh. Ingat, ini cuma nyicipin ya!

Berikutnya bisa mencoba dengan cara bermain bersama, piknik, dance bareng atau main bowling. Dengan bermain game yang seru, kita bisa membakar kalori yang berlebih. Misalnya main tarik tambang, main sepeda atau game lain yang sifatnya olah raga. Bermain bowling dipilih karena olah raga ini bisa menghindari kita dari kebosanan, kesepian dan makan makanan berlebih.

Kalau piknik, jelas bisa mendatangkan kesenangan buat hati kita. Semakin sering piknik sesuai dengan keinginan, maka semakin sering membuat hati senang. Apalagi didukung pula dengan permainan yang seru, wah, tambah senang deh. Konon kabarnya, hati yang senang dapat mengecilkan lemak-lemak yang nggak penting. Berikutnya adalah menari. Melakukan tarian secara spontan, lepas dan ikhlas, cukup banyak kalori yang dibuang. Apalagi dilakukan bersama teman-teman dengan diiringi musik yang asyik. Rasanya, lelah pun bisa lupa.

Tertawa hal yang sederhana untuk mengurangi timbunan lemak. Tapi kalo tertawa nggak pada tempatnya, bisa dibilang gokil juga nantinya. So, bagaimana caranya membakar lemak dengan cara tertawa, nonton acara komedi bisa jadi pilihan.

Membantu teman juga salah satu jurus ampuh untuk mengurangi berat badan. Coba bersih-bersih bersama teman, berkebun bareng, cuci mobil bareng, mengecat rumah, membantu pindahan sampai membersihkan rumah sama-sama, bakal menguras tenaga banget, tapi sekaligus juga menguras cadangan lemak di tubuh. Cara tadi hampir sama seperti menyortir pakaian di lemari, cara ini cukup positif. Selain beramal (habis disortir, disumbangkan), kamunya juga aktif bergerak. Aktif bergerak sama halnya dengan membakar kalori.

Jurus terakhir yang aneh tapi bisa jadi alternatif untuk berdiet, adalah ciuman. Cara ini sebenarnya bisa dilakukan kalo udah “resmi” loh. Kalo belum resmi bisa repot nih urusannya. Katanya nih ciuman bisa bikin jantung berdetang dan adrenalin bergerak. Dengan begitu, keringat yang keluar adalah kalori yang terbakar. Simple kan? Kalo semua jurus dilakukan dengan cara yang positif dan senang, bukan nggak mungkin badan ideal tanpa harus diet dan suntik menyuntik lemak. Coba deh!

(Sumber: ry@n/kompas.com dalam majalah mingguan Gaul edisi 48 tahun VIII. 14–20 Desember  2009. Hal. 11)

15 Desember 2014

Kena Batunya

Kena Batunya

Banyak orang menilai sesuatu atau seseorang dari penampilannya. Padahal apa yang kelihatannya bagus belum tentu baik. Dan apa yang tampaknya jelek belum tentu buruk. Sebenarnya gak perlu nunggu sampai kena batunya buat berpikir positif. Kata orang bule, ‘Don’t judge the book by its cover’.

Kena Batunya I

Biarpun pro dan kontra Ujian Nasional masih bisa terbuka, semua harus siap menerima semua kemungkinan yang bakal terjadi. Kalo UN dihapus ya syukur, kalau gak, ya gitu deh. Persis sama dengan dipikirkan bapaknya Budi. Apapun keputusannya pemerintah, sekolah tetap pake biaya dan makin lama-makin mahal. Bagaimanapun anak harus sekolah, biar jadi manusia yang pintar, biar bisa bekerja di perusahaan yang besar dan baik, dan sebagainya dan sebagainya.

So, jangan kaget kalau hampir tiap sore, tiap malam, Budi selalu diingatkan sama bapaknya supaya belajar dengan sungguh-sungguh. Bapaknya Budi pengen banget Budi jadi orang sukses. Jadi manusia mapan, syukur-syukur makmur sampai bisa nolongin saudara-saudaranya atau orang lain yang susah. Tapi nasihat yang terus-terusan itu –karena saking seringnya– malah gak lagi memacu semangat belajar Budi, sebaliknya justru memacu niatnya melakukan protes! Dan akhirnya pada suatu sore, waktu Budi lagi asyik belajar, bokapnya lagi-lagi mengingatkan.

Bapak   : “Bud... kamu kalo belajar yang rajin, yang sungguh-sungguh. Sekarang cari kerja susah. Sarjana aja banyak yang nganggur, tuh!”
Budi        : “Iya, Iya! Ngerti.” (Budi agak sewot karena tadi pagi pun, waktu mau berangkat sekolah, dia dinasihati dengan kalimat yang nyaris sama. ‘Bud kamu sekolah yang bener. Sarjana aja banyak nganggur’)
Bapak : “Eee... dinasihati orang tua malah marah, bukannya didengerin! Bapakmu ini udah kenyang bergaul. Udah banyak makan asam dan garam. Gak usah bantah, deh!”
Budi        : “Bukannya Budi gak mau dengerin omongan Bapak ... tapi Budi kan lagi belajar? Emang Bapak pikir Budi lagi ngapain sih?” (Budi mencoba menahan emosinya, biar gak makin menjadi-jadi)
Bapak  : “Tuh kan! Ngebantah terus! Dibilangin orang tua selalu ngebantah. Tiru Obama tuh! Waktu seumuran kamu, dia kerja keras! Rajin!”
Budi   : “Iya! Budi tahu! Tapi, pas seumuran Bapak, dia jadi presiden...”
Bapak      : (dalam hati) ‘Aduh, mati deh gue!’


Kena Batunya II

Kairun pergi ke mini market dekat rumahnya. Dia mau beli daging kalengan, makanan buat kucing. Sampai di kasir, saat mau membayar, kasirnya bertanya.

“Kalo kakek beli makanan kucing ini, kakek harus bisa buktikan kakek punya kucing. Saya khawatir makanan ini nanti dimakan kakek sendiri,” kata si kasir bernama Bunali.

Kairun gak protes, dia balik ke rumah dan gak berapa lama udah sampe lagi ke mini market sambil menggendong kucing kesayangannya. Dipamerkannya kucing itu ke Bunali.

“Ini kucingku,” kata Kairun sambil membayar makanan kucing yang dia beli.

Besoknya Kairun datang lagi ke mini market. Kali ini dia mau beli biskuit rasa tulang, makanan buat anjing. Tapi saat Kairun sampai di kasir dan mau membayar, lagi-lagi dia ditanya sama Bunali.

“Kakek punya anjing juga? Saya khawatir makanan ini kakek makan juga,” kata Bunali.

Kairun gak protes. Dia balik sebentar dan datang lagi sambil menuntun seekor anjing dan ditunjukinnya ke Bunali.

“Ini anjingku,” kata Kairun sambil membayar biskuit rasa tulang yang dia beli.

Besoknya lagi, Kairun datang ke mini market. Dia menenteng kardus mi yang pinggirnya dilubangi seukuran jari.

“Kakek mau beli makan ular ya?” tanya Bunali sok tahu.

“Ini isinya bukan ular. Masukin aja jarimu kalo gak percaya.”

Mula-mula Bunali agak takut, tapi setelah dirayu-rayu, akhirnya Bunali berani juga. Dia memasukkan jarinya ke lubang kardus tersebut. Ternyata isinya lunak, empuk dan sama sekali gak menggigit. Cuma..., pas Bunali menarik jarinya dari lubang kardus itu, baunya gak enak banget! Bunali langsung menggerutu.

“Dasar kakek-kakek payah! Masa aku disuruh pegang tai ayam?!”

“Sekarang saya boleh beli tisu kamar mandi kan?” kata Kairun tenang.

(Sumber: majalah mingguan Gaul edisi 48 tahun VIII. 14–20 Desember 2009. Hal 10)

15 November 2014

Healthy Life ala Maharani

Healthy Life ala Maharani

By: Widya Rosanti

Maharani menatap menu dihadapannya. Steak iga, sepiring nasi, plus Apple Milkjus. Bibir kirinya sedikit terangkat. Matanya kedap-kedip. Iga sapi. Udah pasti berlemak. Kuah steaknya dipenuhi vetsin, saus, plus kecap. Nggak bagus buat tubuh. Nasi, High carbohydrate. Bikin perut jadi kayak belut. Bergelut-gelut nggak kenceng. Apple Milkjus. Meski berasal dari buah, namun gula dan susunya, bisa menjadi salah satu sumber kegemukan. Huff.. Maharani menghela nafas enggan. Nafsu makannya lenyap seketika.

“Kok Cuma diliatin? Makan dong... aku pengen, kencan pertama kita bener-bener berkesan buat kamu. Menua yang aku pilihin tuh enak loh,” ucap Danang sembari menatap ke arah Maharani.

Gadis itu menggeleng. “Kenapa? Nggak suka menunya? Kalo mau, tambah lagi aja. Makanan di sini enak-enak kok,” lanjut Danang berusaha meyakinkan.

Tatapan Maharani beralih pada hidangan di hadapan Danang. Iga bakar saus pedas. Sepiring nasi. Jus alpukat campur susu coklat. Maharani bergidik.

“Danang.. kalo kita pindah cafe, gimana?” tawar Maharani.

Danang bengong nggak ngerti. “Kenapa? Makanan di sini lezat lho. Cobain deh..,” elaknya.

“Enak, tapi nggak sehat. Aku nggak mau makan ginian. Kamu juga sebaiknya menghindari junk food seperti ini. Nggak baik. Sekarang banyak orang meninggal muda. aku sayang kamu, Dan.. Aku nggak pengen kamu jantungan selagi muda. ntra cepet mati, aku sendri. Pleasssssee.. Jangan sentuh hidangan ini. Kita pindah aja. Oke??,” pinta Maharani.

Danang melongo. Matanya mengerjap-ngerjap. Dia pengen nolak. Dia pengen bilang nggak mau. Secara, makanan yang tersaji benar-benar bikin lidah berkecap-kecap enak sampe lupa diri. Apalagi dirinya tipikal cowok doyan makan. Tapi demi Maharani. Cewek cantik yang udah jadi inccerannya selama setahun itu, Danang nurut. Dia nggak mau penantiannya gagal hanya karena belain makanan. Akhirnya dengan berat hati ia memasrahkan kepalanya untuk mengangguk.

“Oke, deh. Kamu aja yang nentuin tempatnya. Yukkk..,” ajaknya setengah hati.

Mereka cabut dari cafe dengan menu “tidak sehat” itu. Maharani memilih resto yang menyajikan masakan Sunda. Restonya cukup artistik. Ditata sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan nyaman dan alami. Suasananya sejuk lagi. Karena banyak pepohonan dan bunga di halamannya. Seorang pelayan berpakaian ala Sunda menyodori mereka daftar menu. Maharani berbinar-binar. Danang jadi yakin. Makanan di situ pasti nggak kalah cantik dengan cafe sebelumnya.

“Mmm.. Pepes ikan mas tiga, cah kangkung dua, cah toge dua, kentang rebus dua, tempe ama tahu kukus satu. Sambel juga dua. Tapi cabe ama tomatnya mentah mas, ya.. Trus minumnya, jus apel tanpa gula ato susu. Dua juga. Udah itu aja,” ujar Maharani enteng.

“Nggak pake nasi, Mbak?” tanya mas pelayan. 

“Oh, ngga,. Nggak pake,” tegas Maharani.

 Maharani menyerahkan daftar menu pada pelayan tanpa ngasih kesempatan ke Danang. Danang nelen ludah. Dugaannya salah. Sebenarnya daftar menunya lumayan menarik. Tapi makanan yang bentar lagi dateng sama sekali nggak ia minati. Nafsu makan Danang mendadak surut. Dia membatin. Makan cuma modal kentang mana bisa perutnya berkompromi. Dijamin nggak bakal kenyang. Beberapa saat kemudian pesenan datang. 

“Nah, ini baru healthy food. Aman dikonsumsi. Bagus untuk kesehatan dan kecantikan. Aku hobi banget makan beginian,” kata Maharani seolah nengahin pergulatan batin Danang.

Danang nggak mampu berkutik. Otaknya dipaksa mikir jenuh. Penantian setahun nggak boleh raib begitu aja karena makanan. Lagian udah resikonya jatuh cinta ama cewek seperti Maharani. Cewek pembela panji-panji kesehatan dan kecantikan. Dia harus bisa maklum. Ibarat pepatah roman, cinta selalu siap menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Dan saat ini, Danang emang lagi kekurangan. Kurang makan maksudnya. Tapi demi cinta, ia pun pasrah. Ia mulai menyantap hidangannya tanpa selera. Maharani menatapnya seolah minta pendapat.

“Iya bener. Ini baru makanan bener-bener sehat,” cetus Danang terpaksa.

***

“Janji ya, Dan.. Jangan berperilaku nyeleneh. Terapkan pola hidup sehat. Kalo kamu emang beneran sayang ama aku. Aku nggak mau sakit-sakitan,” celoteh Maharani sepulang dari gym. Seminggu tiga kali mereka emang nge-gym bareng.

“Ah iya sayang.. Trus besok nonton ya? Filmnya bagus loh.. Sang Pencerah. Ada Giring Nidji ikutan maen,” usul Danang.

Bola mata Maharani membeliak. “Nonton? Kan aku udah daftarin kamu futsal. Daripada duduk melempem nikmatin film sambil ngemil popcorn, mendingan maen futsal say. Bikin sehat pula. Nontonnya sebulan sekali aja.” Sahut Maharani manja.

Danang terdiam. Pandangannya menatap lurus ke depan. Seolah-olah ia beneran konsen ama jalan. Tapi sebenarnya nggak sama sekali. Udah sebulan dia jalan ama Maharani. Dalam sebulan itu pula, dia ngerasa blom kenal Maharani. Buktinya, dia nggak tau hobinya apa, cita-citanya pengen jadi apa, idolanya siapa, pernah liburan kemana aja, ato buku favoritnya apa. Pembicaraan mereka tiap harinya seputar kesehatan terus. Tentang bayam, wortel, jus, buah, serat, jantung koroner, diabetes, kanker, olahraga yang tepat. Seperti sekarang ini. Tanpa sepengetahuannya, Maharani malah udah ngedaftarin dirinya maen futsal. Danang mulai jengah.

“Kok diem aja sih?” protes Maharani.

“Capek. Kayaknya aku nggak bisa ikutan futsal deh,” ceplos Danang pelan.

“Gimana sih? Kan demi kesehatan kamu,” desak Maharani.

Hening.

“Kalo jaga sendiri aja nggak bisa, gimana kamu mau ngejaga aku, Dan? Kalo kamu nggak sayang ama dirimu, gimana kamu bisa sayang aku?” imbuh Maharani.

“Iya tau. Tapi jaga kesehatan bukan berarti kita fokus terus-terusan ama kesehatan. Ada hal lain untuk dibahas, ada makanan enak buat dicicipi, ada saatnya buat relax. Ada hal lain yang juga enak buat diobrolin. Semua ada waktunya, Ran,” sanggah Danang putus asa.

“Jadi kamu ngerasa terbebani, gitu?” tantang Maharani.

Danang terdiam.

“Ya udah kalo gitu. Kita putus ada. Aku nggak mau ngebebanin orang. Mulai sekarang kita jalan sendiri-sendiri. Dan hidupmu bebas,” lanjut Maharani. Suaranya sarat dengan emosi.

***

Air mata Maharani tumpah menggenangi bantal. Kelopak matanya bengkak dan merah. Benaknya nggak habis pikir. Kenapa banyak banget cowok ngarepin cintanya namun setelah jadi pacar mereka justru jengah. Menjauh. Nyari-nyari alasan agar diputusin. Apa karena pola hidupnya yang terlalu memegang teguh prinsip-prinsip kesehatan? Bukankah itu baik? Bukankah itu salah satu bentuk perhatian ekstra? Kenapa cowok-cowok itu malah malas menerapkan sesuatu yang baik bagi diri mereka?

Maharani mulai berpikir terbalik. Mungkin dirinya terlalu strict. Seperti ucapan Danang, bukan berarti dirinya terus-terusan fokus ama kesehatan. Ada waktunya sendiri untuk break. Sekedar memenuhi keinginan diri kita. Bersantai melakukan apa pun tanpa beban. Makan enak. Nonton film. Nggak olahraga. Minum milkjus. Mungkin hidup gitu yang dimaksud Danang.

Maharani mengusap air matanya. Dia bertekad untuk berubah. Maharani segera bangkit dan ganti pakaian. Ia menyambar sepedanya menuju rumah Danang. Dia pengen ngajak cowoknya itu nonton sambil ngemil popcorn.

Maharani berhenti di depan rumah Danang. Ia turun dari sepeda. Pas hendak masuk, mendadak dia tertegun bagai melihat hantu. Dilihatnya di teras, Danang tengah berjalan bergandengan tangan dengan seorang cewek, lalu keduanya masuk ke mobil. Maharani seperti tersedak sebuah apel utuh. Ia tak menyangka sama sekali begitu cepat Danang melupakan dirinya. Tak mau kehadirannya diketahui, Maharani mengowes sepedanya dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Ia mengayuh sepedanya tak tentu arah. Ia ingin jalan-jalan sendiri sore itu. Rumah coklat. Secara nggak sengaja tatapan Maharani membaca sebuah nama kedai kue dan coklat. Ia berhenti. Maharani bimbang. Setahunya, coklat berkhasiat untuk ngilangin stress. Tapi kalo coklat olahan banyak mengandung gula. Berlemak tinggi karena dicampur susu, krim, keju dan kacang. Enak sih. Tapi nggak sehat. Maharani terus menimbang-nimbang. Masuk nggak masuk nggak. Akhirnya cewek itu mantap memasuki Rumah Coklat. Ia nggak peduli lagi dengan lemak, karbohidrat, gemuk, diabetes, jantung koroner, atau obesitas. Toh selama nggak disantap tiap hari, pasti juga nggak akan berbahaya.

Es krim coklat blueberry. Cheese chocolate cake. Pesanan Maharani telah tiba. Tanpa ragu ia mencicipinya satu per satu. Mata Maharani berkedip-kedip takjub. Lidahnya mengunyah tanpa jeda. Kesedihannya menguap.

“Benar-benar lezat,” gumamnya.

Belum lima menit dia duduk, kedua menu tadi udah tandas. Ucapan Danang kembali menggema di ruang kepalanya. Segala sesuatu ada waktunya. Ia membenarkan dalam hati. Dan kali ini ia bertekad menyediakan waktu memanjakan diri, makan sepuasnya tanpa dikekang aturan kesehatan. Ia ingin belajar hidup normal seperti orang lain.

“Mbak tambah lagi. Chocolate milkshake, tiramisu, chocolate muffin, dan ice cream chocolate sundae,” pintanya tanpa ragu.

***

 (Sumber: majalah mingguan Gaul edisi 43 tahun IX . 8 – 14 November 2010 . Hal 26)

9 November 2014

Kiper Jagoan

Kiper Jagoan

Maul lagi berjalan-jalan di Depok, tiba-tiba dia mendengar seorang ibu berteriak-teriak di sebuah gedung. Di sekitarnya asap mengepul-ngepul. Maul buru-buru lari menuju ke rumah itu, ternyata terjadi kebakaran. Banyak orang berdiri dan melihat pemandangan memilukan itu.

Di pinggir jendela dari bangunan tingkat 10 itu, ibu bernama Siti dengan bayinya, berteriak minta tolong, supaya bayinya ada yang selametin.

Maul : “Lempar bayimu ke bawah, aku akan menangkapnya.”
Siti : “Tidak! Tidak! Kamu akan gagal menangkap bayiku, dan dia bisa mati!”
Maul “Nggak bakalan! Aku Maul Horizontal. Akulah penjaga gawang terkenal. Aku tidak pernah gagal selama 10 tahun ini dalam menangkap apapun, dan aku tidak pernah membiarkan satu bola pun masuk ke gawangku!”
Siti  : “Apa? Tidak sau pun?”
Maul : “Tidak! Tak satu pun! Setiap pemain bola di dunia tahu siapa aku, dan mereka mengakui, akulah penjaga gawang terbaik seluruh dunia yang pernah ada!”

Kemudian Maul menunjukkan gayanya menangkap bola, yang membuat kagum orang-orang di sekitarnya.

Siti : “Ok! Aku percaya kamu. Daripada tidak ada pilihan lain. Ini, tangkap! ”

Maka, si Siti melemparkan bayinya ke arah Maul. Tapi sayang lemparannya gak lurus, jadinya tuh bayi muter-muter jatuhnya dan nggak tentu arah.

Siti pun berteriak ketakutan, tapi si Maul dengan sigap, menangkap bayi itu. Kemudian... diletakkannya bayi itu di atas tanah, lalu dia mundur kebelakang sejauh dua meter. Pelan tapi pasti, dia berlari ke arah bayi itu, dan.... menendangnya sejauh 60 meter.

(Sumber: majalah mingguan Gaul edisi 43 Tahun IX. 8-14 November 2010. Hal 14)

Cita-Citaku

Cita-Citaku

Suka nggak suka, yakin pada suka, tentang anak-anak jaman sekarang. Yap, gak dibantah lagi anak-anak jaman sekarang lebih kreatif dibanding anak-anak jaman dulu, apalagi di jaman penjajahan ̶  semua anak harus menurut sama ortu ̶  tanpa perlawanan sedikit pun. Makanya nggak aneh waktu medengar cerita salah seorang teman yang nekat membuktikan dirinya menjadi guru. Katanya dia seneng melihat anak-anak sekarang yang cerdas dan kreatif. Salah satu pengalamannya begini: 

Suatu hari, di jam pelajaran bahasa Indonesia, masing-masing siswa ditanyai tentang apa yang jadi cita-cita mereka. Paling pertama ditanyai Encek. Cowok yang napsu makannya bagus banget ini waktu ditanya cita-cita, dia menjadi menjawab. Jadi wartawan. Bu guru yang hobi nulis itu pun senang bercampur penasaran. Dia gak nyangka siswanya yang keliatan cool ternyata lumayan unik. Daripada penasaran, Bu Guru pun nanya lagi, kenapa kamu ingin jadi wartawan Encek? Dengan senyum-senyum Encek menjawab dengan ringan, biar sering makan gratis.

Bu guru yang kebetulan rumahnya tetanggaan sama tempat tinggal Encek itu pun inget Henry, Kakaknya Encek yang jadi wartawan di salah satu majalah remaja. Orangnya tinggi besar dan sering banget meliput acara launching sama kuliner. Henry yang setahun lalu badannya masih langsing seperti model, saat ini udah seperti ibu-ibu yang hamil muda saking endutnya.

Siswa lainnya yang juga ingin ditanya cita-citanya adalah Desi. Cewek yang rada pendiem tapi sering senyum-senyum sendiri itu, belum ditanya udah berdiri dan bilang kalau dia bercita-cita jadi ibu rumah tangga yang baik dan sayang anak-anak. Bu Guru pun senang, dia ikut senyum-senyum mendengar Desi menerangkan apa yang jadi cita-citanya.

Belum sempat ibu guru yang gaul ini bicara, Candra seorang murid cowok yang duduk gak jauh dari Desi langsung menyambar. “Saya juga punya cita-cita Bu Guru. Cita-cita saya..., Saya akan membantu Desi meraih cita-citanya,” dan Bu Guru pun tersenyum manis sekali.

(Sumber: majalah mingguan Gaul edisi 43 Tahun IX. 8-14 November 2010. Hal 14)